Kamis, 23 Juni 2011

Sa’ad Bin Abi Waqqash “Singa yang Menyembunyikan Kukunya”


1.                  Sedikit Tentang Sa’ad
Berita yang datang secara beruntun menyatakan serangan licik yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata persi terhadap kaum muslimin, amat menggelisahkan hati Amirul Mu’minin. Disusul kemudian dengan berita tentang petempuran jembatan, dimana empat ribu pihak kaum muslimin gugur sebagai syuhada dalam waktu sehari, begitupun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang irak terhadap perjanjian-perjanjian yag mereka buat, serta ikrar yang telah mereka akui, menyebabka khalifah mengambil keputusan untuk pergi dan memimpin sendiri tentara Islam dalam perjuangan bersenjata yang menentukan melawan Persi.
Bersama  beberapa irang sahabat dan dengan menunggang kendaraan, berangkatlah ia dengan meninggalkan Ali di Madinah sebagai wakilnya. Tetapi belum berapa jauh dari kota, sebagian anggota rombongan berpendapat dan mengusulkan agar ia kembali dan memlilh sala seorang diantara para sahabat untuk melakukan tugas tersebut.
Usul ini di prakarsai oleh Abdurrahman bin ‘Auf yang menyatakan bahwa menyia-nyiakan nyawa Amirul mu’minin dengan cara seperti ini, sementara Islam sedang menghadapi hari-harinya yang menntukan, adalah peruatan yang keliru.
Umar pun menyuruh kaum Muslimin berkumpul untuk bermusyawarah dan diserukanlah “asshalata Jami’ah” ; sementara ali dipanggil datang, yang bersama beberapa orang penduduk Madinah berangkat menuju tempat perhentian Amirul Mu’minin. Akhirnya tercapailah persetujuan sesuai dengan apa yang diusulkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf dan pesrta musyawarah memutusan agar Umar kembali ke Madinah dan memilih seorang panglima lain yang akan memimpin peperangan menghadapi Persi.
Amirul Mu’minin tunduk pada keputusan ini, lalu menanyakan kepada para sahabat, siapa kiranya orang yang akan dikirim ke Irak itu. Mereka sama tertegun dan berpikir. Tiba-tiba berserulah Abdurrahman bin ‘Auf,  “saya telah menemukannya!” “siapa ia????” tanya Umar.
Ujar abdurrahman, “ Singa yang menyembunyikan kukunya, yaitu Sa’ad bin Malik Azzuhri!!”
Pendapat ini disokong sepenuhnya oleh Kaum Muslimin, dan Amirul Mu’minin meminta datang Sa’ad bin Malik Azzuhri yang tiada lain Sa’ad bin Abi Waqqash. Lalu diangkatnya sebagai Amir atau Gubernur militer di Irak yang bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai panglima tentara.
Sa’ad masuk Islam selagi berusia tujuh belas tahun dan keislamannya termasuk yang terdahulu diantara para sahabat. Hal ini pernah diceritakannya sendiri katanya “pada suatu saat saya beroleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam”. Maksudnya bahwa ia adalah salah seorang diantara tiga orang yang paling dahulu masuk Islam.
Maka pada hari-haripertama Rasulullah saw menjelaskan tentang Allah yang esa dan tentang agama baru yang dibawanya, dan sebelum beliau mengambil rumah Al-arqam untuk tempat pertemuan dengan sahabat-sahabatnya yang telah mulai beriman, Sa’ad bin Abi Waqqash mengulurkan tangan kanannya untuk berbaiat kepada Rasulullah saw.
Sa’ad termasuk seorang kesatria berkuda Arab dan Muslimin yang paling berani. Dan ia memiliki dua macam senjata yang amat ampuh, yaitu panahnya yang tidak pernah meleset dan doanya yang senantiasa dikabulkan. Jika ia memanah musuh dalam peperangan, pastilah akan mengenai sasarannnya dan jika ia menyampaikan suatu permohonan kepada Allah pastilah akan ia kambulkan. Menurut Sa’ad sendiri dan Juga para sahabatnya hal itu adalah disebabkan doa Rasulullah saw juga bagi pribadinya.

1.                  Ketabahan Sa’ad
            Sebuah hadis yang diriwatkan oleh jabir ra. Katanya, ketika Sa’ad datang kepada Nabi saw, beliau bersabda :
inilah saudara ibuku, hendaklah melihatku sebagai anak saudaranya(H.R Ibnu Abdil Birr)
Sa’ad berasal dari kabilah Zuhroh sama dengan ibu Rasulullah saw. Sa’ad juga anak dari paman aminah (Ibunda Rasulullah saw). Sa;ad pernah berkata “ketika kaum muslimin disekat ekonominya di makkah,hamper tiga tahun lamanya, yang kami makan bersama Rasululloh saw adalah daun-daunan sehingga kotoran kami menyerupai (kotoran) domba”.Hampir tiga tahun lamanya mereka makan dedaunan sehingga kedua sisi mulut mereka luka-luka. Tapi cobaan itu akhirnya berakhir dan kaum muslimin pun selamat.
Selain diuji dengan kesengsaraan Sa’ad juga diuji dengan tidak setujunya ibunda tercinta dengan pilihannya untuk masuk agama Islam. Ketika ibunya mengetahui Sa’ad masuk Islam, ia begitu marah dan bersumpah tidak akan bicara lagi dengan Sa’ad. Ia juga enggan makan dan minum sampai Sa’ad meninggalkan agamanya dan kembali ke agama yang ia anut sebelumnya.
Ibundanya berkata kepada Sa’ad, ”Kamu pernah mengatakan bahwa Allah telah berpesan kepadamu agar kamu patuh kepada bapak ibumu. Aku ini ibumu dan aku menyuruhmu keluar dari Islam tetapi engkau tidak mematuhinya”.
Tetapi Sa’ad tetap berpegang teguh pada Islam sampai ibunya kelaparan sesudah beberapa hari tidak makan dan minum, bahkan sampai jatuh pingsan. Dia mengutuk Sa’ad dan menyuruhnya kembali kepada kekafiran.
Sa’ad kemudian dibujuk oleh keluarganya agar menjenguk ibunya dengan harapan bila melihat sendiri kondisi ibunya, hati Sa’ad akan lunak. Tetapi Sa’ad berkata kepada ibunya, ”wahai ibuku, demi Allah, jika ibu memunyai seratus nyawa dan nyawa-nyawa itu hilang menghilang satu demi satu aku tidak akan meninggalkan agamaku karena ibu”.
Setelah yakin akan keteguhan hati putranya, ibu Sa’ad akhirnya menyudahi amarahnya dengan menghintakan puasanya. Ini menggambarkan bahwa Sa’ad merupakan hamba Allah yang sangat teguh pendiriannya dan tidak mudah goyah dengan cobaan, meskipun cobaan itu berasal dari ibunya sendiri.

2.                  Sang Panglima Perang
Karya terbesar Sa’ad adalah ketika memenangkan perang Al-Qadisiyyah melawan tentara persia. Sa’ad yang ketika itu menjadi seorang panglima memimpin 30.000 lebih tentara pilihan yang diantara mereka 99 orang ikut pada perang badar, dan 318 orang berbaiat kepada Rasulullah saw (baiat Arridhwan), dan 300 orang dari mereka yang membuka dan menguasai Makkah dan 700 orang putra-putri sahabat.
Menjelang pertempuran dahsyat pada perang Al-Qadisiyyah melawan tentara persia, Sa’ad jatuh sakit dan penyakit itu semakin parah. Ia menderita kejang otot kaki dan bisul-bisul sehingga tidak memungkinkan untuk menunggang kuda. Kemudian dia melantik Khalid bin Arfathah sebagai penggantinya dan menuliskan surat kepada tentara yang ia pimpin. Dalam surat itu tertuliskan sebagai berikut :
”aku telah melantik Khalid bin Arfathah sebagai penggantiku. Aku berhalangan karena sakit di kakiku dan timbulnya bisul-bisul. Tetapi aku tetap mengarahkan wajah dan diriku untuk mengikuti jalannya pertempuran. Dengarkan dan taati kepemimpinannya, dia yang memerintah tetapi mengerjakan perintahku”.
Setelah menyampaikan wasiatnya, Sa’ad melakukan shalat dzuhur bersama tentaranya, kemudian sambil menghadap kepada mereka, ia mengucapkan takbir empat kali.
Dengan menabahkan diri menanggung sakit yang dideritanya, Sa’ad naik ke anjung rumah yang ditinggalinya dan yang diambilnya sebagai markas komando. Sambil telungkup diatas dadanya yang dialasi bantal  ia mengkomandoi jalannya perang dari atas sana.
Bisul-Bisul pecah berletusan, tetapi ia tidak peduli, hanya terus berseru dan bertakbir serta mengeluarkan perintah kepada anak buahnya.
Perang itu berlangsung beberapa hari, dan akhirnya dimenangkan oleh kaum muslim. Kejadian ini membuktikan bahwa Sa’ad adalah panglima yang sangat bertanggung jawab. Ia tidak meninggalkan apa yang sudah diamanahkan kepadanya hanya karena sakit. Ini terbukti dengan diutusnya Khalid bin Arfathah untuk menggantikannya,dan tetap memimpin jalannya perang melalui khalid. Selain bertanggung jawab, ia juga merupakan panglima perang yang sangat cerdas dalam memimpin perang.  
Setelah beristirahat selama dua bulan, Sa’ad dan paskan muslim melanjutkan serbuannya ke negeri persia dan berhasil menguasai ibu kotanya yang terletak di sebelah timur sungai Dajlah, pada bulan jumadil awal tahun 15 Hijriah.
Mereka memasuki istana raja tempat pemujaan api dalam ruangan istana (yang menjadi pusat penyembahan kaum majusi) dipadamkan apinya dan diganti dengan bangunan sebuah masjid. Ini sangat jelas menggambarkan betapa beraninya seorang Sa’ad bin Abi Waqqas dalam menegakkan agama Allah.
3.                  Kebesaran Hati Sa’ad
Setelah kemenangan demi kemenangan dapat dicapai oleh khalifah Umar, Sa’ad dilantik menjadi gubernur kufah, Irak. Sebagaimana yang juga dialami oleh para sahabat yang lain, Sa’ad pun tidak terlapas dari Fitnah. Banyak laporan yang disampaikan kepada Amirul Mukminin Umar. Diantaranya disebutkan bahwasannya Sa’ad kurang khusyu’ dalam shalatnya ketika menjadi seorang imam.
Sa’ad lalu dipanggil ke Madinah, ia menerangkan bahwa apa yang dilakukannya itu sesuai dengan contoh Shalat Rasulullah saw. Yaitu membaca surat yang panjang pada dua rakaat pertama dan berdiri singkat pada rakaat-rakaat berikutnya. Dia tidak mengurangi dari apa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah saw.
Agar tidak menimbulkan fitnah di negeri yang baru dikuasai oleh kaum muslimin, maka Sa’ad diberhentikan dari jabatannya, tetapi kepercayaan Umar terhadap Sa’ad bin Abi Waqqas tetap kukuh dan tidak berkurang sedikitpun.
Menjelang wafatnya Umar, Sa’ad dilantik sebagai Anggota Syura dan Umar juga berkata, ”Apabila Sa’ad yang terpilih menjadi khalifah oleh majelis syura, baiklah, dan apabila tidak maka aku berpesan kepada khalifah sesudahku agar melantik Sa’ad kembali untuk memangku satu jabatan. Sesungguhnya aku memberhentikan ia dari jabatannya dulu bukan karena dia lalai atau berkhianat”.
Kemudian Utsman sebagai khalifah berikutnya melaksanakan wasiat dari Umar dan melantik Sa’ad kembali sebagai gubernur kufah, Irak.
Tak lama setelah menduduki jabatannya untuk yang kedua kalinya, ia mengundurkan diri dan menjauhkan dirinya dari kesibukkan kemasyarakatan dan pemerintahan karena dilihatnya kini di kalangan kaum muslimin sudah banyak terjadi perubahan dan pergeseran nilai.
Sa’ad tidak pernah membela diri dari segala macam tuduhan keji terhadap dirinya. Dia percaya pada dirinya sendiri dan dia yakin bahwa dia tidak pernah melanggar perintah dan larangan Allah. Oleh karena itulah, dia tidak memerdulikan tuduhan-tuduhan yang jatuh kepadanya kecuali dia berdoa kepada Allah :
“Ya Allah, apabila orang memfitnah dan menuduhku itu karena riya, dusta, dan ingin mendapat nama, maka butakanlah matanya, banyakkanlah anak-anaknya dan biarkanlah ia menerima balasan fitnah”.
Dan ternyata Allah mengabulkan doanya, karena Rasulullah saw telah memohon kepada Allah agar doa sa’ad dikabulkan.
Diriwayatkan oleh Ibnul Atsir bahwa orang yang memfitnah Sa’ad tersebut menjadi buta, memunyai anak sepuluh orang perempuan dan bila mendengar suara istrinya dia pegang erat-erat dan memakinya seraya berkata “ini semua karena doa Sa’ad orang yang diberkahi”. Dan akhirnya hidup orang itu menjadi menderita dan tersiksa.
Selain orang yang pemberani, Sa’ad juga merupakan sahabat yang memiliki kebesaran hati yang sangat tinggi. Ini terbukti dengan keikhlasannya ketika diturunkannya ia oleh Umar saat baru saja diangkat menjadi gubernur Kufah yang pertama kalinya karena alasan tidak ingin menimbulkan fitnah yang besar pada negeri yang baru saja dikuasai oleh umat muslim.
Ia juga sosok pemimpin yang memiliki niat yang sangat bersih dalam menjalankan semua yang menjadi amanahnya. Sehingga ketika amanah tersebut mengancamnya untuk memiliki niat yang lain, bukan karena Allah, maka ia dengan sangat ikhlas meninggalkan amanah itu. Ini bisa kita lihat ketika ia kembali diangkat sebagai gubernur Kufah untuk kedua kalinya oleh Utsman yang merupakan khalifah setelah Umar. Ia mundur dari jabatannya sebagai gubernur Kufah, karena ia melihat ada pergeseran nilai yang dialami oleh umat muslim di tataran pemerintahan pada saat itu.
4.                  Pilihan Sa’ad bin Abi Waqqas
Sa’ad mencapai usia lanjut, dan tibalah saat terjadinya fitnah besar. Sa’ad memilih untuk tidak ikut campur dalam kejadian ini. Bahkan kepada keluaga dan putra-putranya dipesankan agar tidak menyampaikan suatu berita apapun mengenai hal itu kepadanya.
Kejadian ini terjadi ketika terjadi perpecahan antara umat muslim, antara yang mendukung Ali bin Abi Thalib dan yang mendukung Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Pada suatu ketika perhatian orang sama-sama tertuju kepadanya, dan anak saudaranya yang bernama Hasyim bin Uthbah bin Abi Waqqas datang mendapatkannya, seraya berkata, “paman, di sini telah siap seratus ribu bilah pedang, yang menganggap bahwa pamanlah yang lebih berhak mengenai urusan khilafah ini!”.
Ujar Sa’ad:
“Dari seratus bilah pedang itu saya inginkan sebilah pedang saja, jika saya tebaskan kepada orang mukmin maka takkan mmpan sedikitpun juga, tetapi bila saya pancungkan kepada orang kafir pastilah putus batang lehernya”.
Mendengar jawaban itu anak saudaranya maklum akan maksudnya dan membiarkannya dalam sikap damai dan tak ingin bercampur tangan.
Dari kisah ini, dapat disimpulkan bahwa Sa’ad merupakan orang yang sangat bijak dalam mengambil keputusan. Ini sangat terlihat dari keputusan Sa’ad untuk tidak memihak kepada salah satu calon khalifah yang akan menggantikan Utsman bin Affan, walaupun banyak orang yang menganggapnya pantas untuk ikut menilai dua sahabat yang ingin menggantikan Utsman pada saat itu tapi ia memilih untuk tidak ikut campur sedikitpun di dalamnya. Ini terjadi karena ia melihat perpecahan ummat islam pada saat itu karena mendukung salah satu dari keduanya, dan ketika ia ikut campur didalamnya akan ada fitnah besar yang muncul dan akan memperkeruh keadaan yang sudah terjadi
Sikap dari Sa’ad ini membuat Sa’ad dipandang sebagai pemimpin yang memiliki pertimbangan yang sangat matang ketika ingin mengambil keputusan. Ia tidak hanya memertimbangkan hal-hal yang bisa mnguntungkan dirinya, tetapi ia juga memikirkan kemaslahatan ummat Islam secara keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar